Senin, 18 Oktober 2010

CERITA KAWAN

dentum amarah berjatuhan di otak (1) lenguh hati menyeret bisikan resah (2) di langit malam yang selalu hadirkan igauan-igauan muram (3) seperti tusukan gerimis yang melebihi embin ranum (4) di wajah daun-daun murung (5) akulah anak kegelapan yang lahir di bukit kapur (6) di mana derita selalu memanjatkan keabadian (7) mendekap luka (8) menggores riwayat rahasia (9) bagi baju yang selalu kering di badan (10) tubuh kering kerontang (11) lebaran hampir tiba (12) takbir kembali menggema (13) nasi putih dan daging sapi terbayang (14) tetangga-tetangga berdatangan ke rumah kerabatnya masing-masing (15) entah! aku akan kemana? (16) ayah ibu tak pernah menceritakan siapa saudaraku (17) dentum rasa malu terasa ngilu (18) seolah aku tak berdaya (19) menerima takdir hidup yang hanya menganga (20)

2010

CAHAYA KEBIMBANGAN

membuka jendela bagi gelap mata (1) terkuak cahaya (2) melesat di dada (3) puing-puing batu cadas (4) hanguslah jadi debu (5) getar firman seolah membelah kepala (6) menjadi persimpangan jalan (7) beralamatkan surga neraka (8) ah! pada siapa lagi mesti kupilih jalan ini (9) bila mereka menganggap diriku pengigau, si gila, penabur kembang kata-kata (10) ketakpastian meniupkan roh kebimbangan (11) setiap kali kidung sunyi memendam takdir berduri (12) semesta tak bisa mewakili kebimbangan ini (14) tak ada yang bisa di terka (15) selain membaca bayang-bayang ketakutan (16) membuntuti dendam pada desah angin dari mulut jendela, menganga (17) seperti mulut kekasih yang membisikkan gerimis cuaca (18)

2010

RISALAH PERJALANAN

kudatangi sendiri (1) di hujan yang terus mengguyur (2) pada setiap tepian mendalam (3) di ceruk-ceruk petobatan (4) aku terus mencari jejak langgah yang kering (5) di bukit-bukit, lembah-lembah, juga sawah-sawah membentang pasrah (6) ketika rembulan tiada hentinya menyiram cahanya ke arah tujuan berlarian (7) tiada putus, tiada ujung (8) pujian-pujian basah di pipi kerontang (9) setiap kali terdengar bisikan-bisikan gelap bersiasat (10) membuntuti bayang-bayang (11) angin mendesir pada setiap alamat asing (12) juga anasir langit yang murung (13) kota-kota yang ku singgahi tak lagi mendengungkan derita waktu juga keindahan melapuk kusut (14) seperti selembar kertas di saku (15) bertuliskan sajak-sajak laknat (16)

2010

DI DEPAN CERMIN

kulihat cermin (1) kulihat diriku dalam-dalam (2) ada masa lalu berlarian (3) mengejar masa depan yang suram (4) penuh ketakun-ketakutan (5) raut mukaku sama dengan raut mukanya (6) ku sentuh muka cermin yang licin (7) tangannya menarik tanganku (8) mengajakku meninggalkan jasadku yang rapuh (9) masaku yang hampir punah (10)

2010

Tidak ada komentar: